Rabu, 11 Juli 2012

Pengaruh yang diberikan BLINK





Pengaruh Terhadap Figur Publik

Kehadiran Blink membawa pengaruh besar terhadap industri musik dan hiburan. Pandangan tentang mempertanyakan kualitas vokal Girlband tidak berlaku untuk Blink. Tak terkecuali kalangan figur publik Indonesia. Beberapa figur publik (kalangan artis) senang dengan kehadiran Blink dan memberikan apresiasi positif, antara lain, Gading Marten, SM*SH, Kevin Aprilio, Princess, Cherry Belle, 7icons, Yovie Widianto, Dwiki Dharmawan, Bopak Castello, Budi Anduk, Kiwil, Idan Separo, Andhika Pratama, Raffi Ahmad, Afghan, Mpok Nori, Lia 'Trio Macan', Vincent, Julia Perez, Cinta Kuya, Reza Bukan, Rayi 'RAN', Virgoun 'Last Child', Didan Fitrasakti, Tio Nugroho, Papham, Reza Bukan, Farid Aja, Laila Sari, Olla Ramlan, Narji dan Omas.

Kemudian dari ranah sepak bola, antara lain, Ramdani Lestaluhu (Persija) yang menyukai lagu Dag Dig Dug, kemudian Kurnia Mega (Arema ISL), Andrew Barisic (Arema IPL), Hasim Kipuw (Persija), Greg Nwokolo (Pelita Jaya), Zaenal Arif (PSPS), Noh Alam Shah (Persib). Namun ada juga yang hanya senang pada individu personelnya seperti Cecep Supriatna (Persib) yang merupakan fans Sivia, Hendro Kartiko yang mengaku mengagumi sosok Shilla ataupun Safee Sali yang menyukai Sivia dan Shilla selain daripada Putih Abu-Abu.

Pengaruh Terhadap Budaya Pop Indonesia

Kehadiran Blink dinilai sebagai fenomena kecil yang menggambarkan naiknya kualitas Boyband dan Girlband Indonesia. Meskipun kehadiran mereka mengejutkan karena latar belakang masing-masing personelnya yang rata-rata adalah Idola, serta performa mereka, baik penampilan maupun kualitas musik yang dianggap menengah-elit. Kehadiran mereka juga dituduh mempersempit pasar "band" Indonesia. Disisi lain Blink seperti kebalikan fenomena Kangen Band yang pernah diutarakan dalam buku Cracking Zone, nyaris tidak ada penolakan atau cemoohan berarti terhadap Blink. Yang mana masyarakat sekarang ini (2012) sudah punya kemampuan filter untuk menafsirkan kode-kode baru dalam kehidupan sosial, seperti "kamseupay" dan sejenisnya. Konsep Blink yang tidak seperti Girlband lainnya, dimana lebih mengutamakan musikalitas daripada dance memberikan pengaruh bahwa Blink dirasakan lebih bebas dalam mengeksplorasi musik mereka dan tidak lari kearah kualitas bermusik yang rendah.

Lebih lanjut para personel Blink adalah trendsetter yang tak hanya dalam bahasa, lifestyle, fashion yang khas berdasarkan kreativitas mereka tetapi juga dalam penggunaan twitter, video serta fotografi digital sebagai sarana micro blogging lanjutan. Yang mana mereka tidak hanya menggunakan namun juga menciptakan kode-kode baru didalamnya. Tren Blink tersebut kemudian banyak diikuti oleh para remaja saat ini (2012), seperti halnya bagaimana terlihat berkelas tanpa harus berlebihan, kemudian dari bukan siapa-siapa menjadi diakui, berkomunikasi ala personel Blink, dan juga lainnya. Semisal mereka mempunyai fakta-fakta detil seputar kehidupan mereka yang terus direplikasi oleh para fans. Dan hal tersebut tidak dimiliki oleh artis-artis yang lebih dahulu tenar seperti Agnes Monica atau Sherina. Kode-kode tersebut dirasakan lebih liberal namun tetap kokoh dalam paradigma mereka sendiri tanpa harus peduli terhadap opini publik yang berkembang.

Berbeda dengan konsep pencitraan publik yang selama ini digunakan oleh figur publik agar terkesan baik. Blink justru tidak menggunakannya, mereka bersikap apa adanya (tidak menambahi atau mengurangi), seperti.
1. Kualitas vokal yang diatas rata-rata.
2. Kekompakan dalam menari yang berbeda masing-masing personel.
3. Terlatih bertahun-tahun sebelum debut.
4. Kreativitas dalam musik.
5. Menjadi diri sendiri.
Hal-hal tersebut yang kemudian menjadi stigma tersendiri dan menjadi identitas dalam pandangan publik. Berujung kepada kode-kode baru bagaimana seharusnya seorang figur publik berhubungan dengan media, fans atau siapapun. Jadilah sebuah koreksi atas kode baru tersebut bisa diterima atau tidak oleh publik. Hingga timbul berbagai komparasi di ranah publik yang melibatkan Blink dan Girlband lainnya. Seperti yang pernah santer diberitakan bahwa Blink dianggap lebih baik daripada Cherry Belle, sehingga menimbulkan kesalahpahaman para fans masing-masing.

Pengaruh Terhadap Perilaku Sosial

Menjelang satu tahun pasca kehadirannya, pengaruh Blink dalam menyampaikan pesan-pesan sosial dan perasaan mereka mulai melebar ke berbagai lapisan kelas sosial yang ikut membawa pengaruh luar biasa terhadap perilaku sosial, orientasi hidup, sampai hal-hal kecil yang tidak semua kalangan bisa melakukannya terutama bagi kalangan bawah. Seperti kepemilikan perangkat komunikasi canggih yang berharga mahal, namun dibeli dengan uang mereka sendiri dan banyak lagi lainnya. Namun, bagi kalangan bawah melalui hal tersebut Blink dianggap merupakan figur terbaik yang pantas dicontoh dan diikuti sebagai perwujudan nyata untuk menyongsong masa depan. Yang mana sosok mereka yang bertalenta dan cantik serta memiliki citra berpengaruh terhadap budaya, intelektual dan politik yang kuat, menjadikan obsesi orang tua terhadap masa depan anak.

Disamping banyak memberikan tuntunan sosial yang kesannya tidak menggurui melalui twitter. Para personel Blink juga banyak mencontohkan tentang bagaimana cara berperilaku yang baik. Semisal dalam melakukan kontak mata yang benar sesuai dengan situasi, yakni.
1. Melakukan kontak mata kepada yang lebih tua untuk orang dengan budaya Eropa.
2. Tidak melakukan kontak mata kepada yang lebih tua untuk orang dengan budaya Asia Timur.
Akan tetapi, hal ini justru sering menimbulkan kesalahpahaman, padahal apa yang mereka adalah benar.

Pengaruh terhadap sistem pendidikan Indonesia

Meskipun hanya memberikan sedikit kontribusi, kehadiran Blink cukup membuka pemikiran tentang bagaimana keuletan untuk mencapai impian dapat selaras dengan pendidikan. Para personel Blink memberikan contoh bagaimana sinkronisasi segala aktivitas mereka yang sangat interaktif, menyenangkan, dan menantang tanpa harus merasa tertekan berlebihan meskipun keseharian sebagai figur publik cukup melelahkan dan menyita waktu. Dengan rata-rata kemampuan lebih dalam komunikasi publik, secara tak langsung mengajarkan agar menggunakan bahasa yang benar sesuai tempat dan kebutuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar